Kompi Fox Diberangkatkan dari HMAS Kanimbla Saat RIMPAC 2010

Jumat, 30 Juli 2010


Friday, July 30, 2010

29 Juli 2010 – HMAS Kanimbla mengangkut Infanteri dan Marinir Kanada, Marinir Amerika Serikat serta Korps Marinir saat digelar RIMPAC 2010. Pasukan dari tiga negara ini tergabung dalam Kompi Fox. Anggota Kompi Fox bersama peralatan tempurnya menanti keberangkatan dari hangar HMAS Kanimbla. (Foto: Australia DoD)

Anggota Resimen Royal Kanada bergegas menuju dek helicopter HMAS Kanimbla guna menaiki helikopter. (Foto: Australia DoD)

Anggota Korps Marinir Indonesia berdoa sebelum diberangkatkan dengan helikopter dari HMAS Kanimbla. (Foto: Australia DoD)

Anggota Marinir Amerika Serikat istirahat sebelum diberangkatkan dengan helikopter dari HMAS Kanimbla. (Foto: Australia DoD)


Helikopter CH-46E Sea Knight bersiap berangkat dari dek HMAS Kanimbla membawa Marinir AS ke Kepulauan Oahu. (Foto: Australia DoD)

Tuesday, 8 June 2010 KFX 201 Program MOU between South Korea and Indonesia

From Fighter Planes


Planned cooperation between Indonesia and South Korea to start a joint project on jet fighter production received strong support from a lawmaker and researcher here on Friday but they warned that it will need to undergo feasibility studies.

“The joint cooperation is good for Indonesia because it will help us revitalize our defense industry.

However it is strongly recommended both countries conduct thorough feasibility study,” Kemal Azis Stamboel, lawmaker from the House of Representatives Commission I overseeing defense and intelligence told The Jakarta Post on Friday.

Kemal added that among points to be looked into in the study would be an assessment of possible future conflict between the two countries.

“This policy applies for all potential partner countries because of course we don’t want to be caught out if it occurs,” he added.

Initiated during a visit to Indonesia by South Korean President Lee Myung-bak last year, both countries are now gearing up to sign a Memorandum of Understanding (MoU) for the fighter production, which will be called “KFX project”.

According to secretary-general of the Defense Ministry Deputy Marshal Eris Haryanto, the MoU is likely to be signed at the end of this year. After the signing, a joint team comprising experts from both countries will be formed.

This team would be tasked with building five prototypes of the aircraft before 2020. After achieving the break even point target of 200 units, the aircraft will be ready for mass production.

Military expert from the Indonesian Institute of Sciences Jaleswari Pramodhawardani said the project offers Indonesia a rare chance to develop its defense industry.

“There is always a risk in everything but in my opinion we should take this risk,” she said.

However, she said the project would cost a huge part of the budget, meaning the Indonesian Military may have to work hard to convince lawmakers to grant funding.

Under the MoU, Indonesia will shoulder 20 percent of the initial budget of US$8 billion, which Kemal described as “reasonable”.

The joint project is widely seen as a pilot project for Indonesian military in revitalizing defense industry.
The Indonesian military is now perfecting an draft paper on boosting the country’s defense industry.

http://weapons.technology.youngester.com/2010/06/kfx-201-program-mou-between-south-korea.html

Jet Tempur JF-17 Produksi Bersama (indonesia - pakistan)


Friday, July 30, 2010

JF-17 Thunder. (Photo: PAC)

30 Juli 2010, Yogyakarta -- Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufaat menyambut positif tawaran Pakistan kepada Indonesia untuk bersama-sama memproduksi pesawat tempur JF-17. Pesawat tempur buatan Pakistan itu memiliki teknologi dan daya jelajah lebih canggih dibandingkan pesawat tempur F-16 produksi AS.

"Tawaran dari Pakistan sangat menarik, menantang dan cukup bagus dalam perkembangan kekuatan pertahanan udara kita. Selain itu, kerjasama untuk memproduksi pesawat tempur akan memacu sumber daya manusia kita untuk memproduksi pesawat tempur yang canggih," ujar Imam kepada Suara Karya usai upacara peringatan 63 tahun Hari Bakti TNI Angkatan Udara di Lanud Iswahjudi, Yogyakarta, Kamis (29/7).

Tampak hadir, di antaranya mantan Menko Polhukam Agum Gumelar, mantan KSAU Marsekal Subandrio, Kepala Staf Umum TNI Marsekal Madya TNI Edy Hardjoko, Wakil KSAU Marsdya TNI Sukirno KS dan Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI AU I, Marsda TNI Eddy Suyanto.

Ia menjelaskan, kecanggihan JF-17 telah disaksikan TNI Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan RI. Dua negara yang telah digandeng Pakistan untuk memproduksi pesawat yang sama itu adalah China dan India.

"Pesawat itu sudah jadi, sehingga kita tak perlu suah payah untuk melihat hasil produksinya. Angkatan udara yang telah menggunakannya adalah India dan China," ujar Imam.

Suara Karya

Pakistan Siap Ekspor JF-17 Thunder

Pakistan menampilkan dua jet tempur JF-17 Thunder secara statis pertama kalinya di pameran dirgantara internasional Farnborough 2010, Inggris. (Foto: Reuters)

29 Juli 2010 -- KASAU Pakistan Marsekal Rao Qamar Suleman membantah produksi jet tempur JF-17 Thunder terhambat karena masalah pembelian mesin pesawat dari Rusia, dikatakannya kerjasama pembuatan pesawat dengan Cina berjalan mulus. KASAU Marsekal Suleman mengatakan pada media saat berkunjung ke pameran dirgantara internasional Farnborough di Inggris 21 Juli 2010.

Presiden China Aviation Technology Import dan Export Corporation (CATIC) Li Yu Hai yang hadir mengatakan bahwa mereka belum menerima kabar dari Rusia mengenai pembatalan pengiriman 100 mesin jet RD-93. Mesin ini akan digunakan jet tempur JF-17 Thunder.

KASAU Marsekal Suleman menambahkan Cina telah membuat mesin WS-13 Taishan untuk JF-17 Thunder, saat ini dalam pengujian dan percobaan. “Kami harus melihat sejauh mana mesin ini kesuksesannya dan kemudian kemungkinan digunakan oleh JF-17”. Beliau mengatakan Pakistan akan membuat sekitar 250 JF-17 untuk menggantikan armada pesawat A-5, FP-7 dan Mirage.

JF-17 diproyeksikan menggantikan jet tempur Northrop F-5 Tiger, Dassault Mirage III/5, Shenyang J-6, MiG-21/F-7 Fishbed, and Nanchang Q-5.

JF-17 Thunder pertama dibuat di Pakistan Aeronautical Complex, Kamra ditampilkan ke public 23 November 2009. (Foto: Xinhua/Li Jeng chen)

Mesin jet buatan Rusia RD-93 akan digunakan jet tempur JF-17 Thunder.

Sejumlah media internasional memberitakan, perusahaan pertahanan Rusia keberatan penjualan 100 RD-93 pada Cina. Rusia menghadapi persaingan ketat dengan Cina dalam memasarkan pesawat tempur ke pasar global. Meskipun jet tempur buatan Cina kemampuannya dibawah buatan Rusia, tetapi harga yang ditawarkan sangat murah, sejumlah negara berkembang tertarik membelinya.

Jet tempur MiG-29 berkompetisi dengan JF-17 dalam tender pembelian 32 pesawat untuk AU Mesir. Harga satu unit MiG-29 dibanderol 35 juta dolar, JF-17 hanya 15-20 juta dolar. Mesir dan Pakistan sedang bernegosiasi lisensi produksi JF-17 di Mesir menurut Majalah Mingguan Jane’s Defence.

JF-17 Thunder pertama kalinya ditampilkan di pameran internasional dirgantara. Dua jet tempur JF-17 Thunder AU Pakistan ditampilkan statis di Farnborough. Pakistan berencana menampilkan JF-17 di Singapore Air Show tahun depan dan melakukan demo terbang di Farnborough 2012.

Pakistan sedang memasarkan gencar jet tempur buatannya ke sejumlah negara. AU Azerbaijan telah memesan 24 unit pada 2007, Zimbabwe 12 pada 2004, Pakistan 250 sudah dikirimkan 20 unit, sedangkan Cina masih mengevaluasi kinerjanya.

Sejumlah negara menyampaikan minatnya, seperti Aljazair, Bangladesh, Iran, Lebanon, Maroko, Nigeria, Sri Lanka, Sudan, Malaysia dan Mesir. Pakistan telah menawarkan pada Indonesia untuk memproduksi bersama JF-17 Thunder. Pemerintah Indonesia belum memutuskan menerima atau menolak tawaran ini.


(Foto: PAC)

AU Pakistan meresmikan skuadron pertama JF-17 Thunder pada 18 Februari 2010 di salah pangkalan AU Pakistan Kamra. Skuadron 26 Lightning Thunders diperkuat 14 JF-17 Thunder. Jet tempur ini akan dilibatkan dalam latihan Hi-Mark 2010 di bulan September.

Jet tempur ringan JF-17 Thunder dikembangkan bersama Pakistan dan Cina. Cina memberi nama Super-7 (Chao Qi). Jet tempur dirancang oleh Chengdu Aircraft Design Institute (CADI), prototipe dibangun Chengdu Aircraft Industry Company (CAC), keduanya berlokasi di Provinsi Sichuan. CAC pabrik pesawat tempur terbesar kedua di Cina.

Kerangka pesawat (airframe) dibuat semi-monolog dengan masa lelah (fatigue) 4000 jam terbang atau 25 tahun. Overhaul pertama dilakukan setelah terbang 1200 jam. Pesawat mampu membawa bahan bakar internal 5130 pound, atau mencantelkan satu tanki bahan bakar ditengah kapasitas 800 liter serta dua tanki di sayap 800/1100 liter.

JF-17 Thunder dirancang mampu membawa persenjataan buatan Cina, Pakistan atau negara Barat. Jet tempur ini dibuat untuk orientasi ekspor, sehingga spesifikasi dan jenis persenjataannya disesuaikan keinginan pembeli. JF-17 Thunder mampu membawa rudal udara-udara BVR (Beyond Visual Missile) berjarak 70-100 km seperti R-Darter, IRIS-T, AIM-120; rudal anti kapal permukaan seperti Exocet, Harpoon atau C-801/802; bom berpandu seperti Fei Teng, Lei Ting, DPGM.

Pakistan membuat JF-17 di Pakistan Aeronautical Complex (PAC) Kamra dengan kapasitas 15-25 pesawat pertahun. Jet tempur ini diklaim dibuat sesuai dengan US MIL STD dan Cina standar, tetapi belum ada konfirmasi dari pemerintah Cina akan menggunakan untuk angkatan udaranya.

Berbagai sumber/Berita HanKam

Royal Malaysian Air Force


From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
Royal Malaysian Air Force
Tentera Udara DiRaja Malaysia
Royal  Malaysian Air Force ensign Crest of the RMAF.gif
Flag and Crest of Royal Malaysian Air Force
http://www.airforce.gov.my
Founded 2 June 1958[1]
Country Malaysia
Branch Malaysian Armed Forces
Type Air Force
Role Defence and Dominance of Malaysia's airspace and its territory
Motto Sentiasa Di Angkasaraya
(English: Always In Airspace)
Colors Navy Blue, Maya Blue
Anniversaries June 2nd 1958 (founded)
Engagements Malayan Emergency
Indonesia–Malaysia confrontation
Communist Insurgency War
Kosovo War
Commanders
Chief of Air Force General Dato' Rodzali bin Daud
Deputy Chief of Air Force Lieutenant General Dato' Haji Shahron bin Ibrahim
Insignia
Roundel
Roundel of the Royal Malaysian Air Force.svg
Fin flash
Finflash.svg
Identification
symbol

Aircraft flown
Attack BAE Hawk Mk.208
Electronic
warfare
Sapura UVA, RJX1 UVA
Fighter Sukhoi Su-30 MKM Flanker, Boeing F/A-18D Hornet, Mikoyan MiG-29N Fulcrum
Interceptor Mikoyan MiG-29N Fulcrum
Patrol Beechcraft Super King Air
Reconnaissance Northrop RF-5
Trainer Aermacchi MB-339, MD3-160 Aerotiga, BAE Hawk Mk.108, Pilatus PC-7 Turbo Trainer
Transport Lockheed C-130 Hercules, Airbus A400M, CASA CN-235, Sikorsky S-61 Sea King, Mil Mi-17, Eurocopter EC 725

The Royal Malaysian Air Force (RMAF) (Malay: Tentera Udara DiRaja Malaysia (TUDM)) was formed on 2 June 1958 as the Royal Malayan Air Force (Tentera Udara Diraja Persekutuan). However, its roots could be traced to the Malayan Auxiliary AF formations of the British Royal Air Force in then colonial Malaya. Today, the Royal Malaysian Air Force operates a unique mix of modern US, European and Russian made aircraft.

Contents

[hide]

[edit] Early years

Twin Pioneer Mk.1 “Lang Rajawali” (FM1064 c/n:583) on display at the Melaka Transport Museum

On 25 October 1960, after the end of the Malayan Emergency, the British Royal Air Force handed over their first base in Malaya to the RMAF, the Simpang Airport, which was established on 1 June 1941, located in Sungai Besi, Kuala Lumpur which was formerly part of Selangor.

The first aircraft for the fledgling air force was a Scottish Aviation Twin Pioneer named “Lang Rajawali” by the then Prime Minister Tunku Abdul Rahman. Several Malayans serving with the Royal Air Force transferred to the Royal Malayan Air Force. The role played by TUDM was limited initially to communications and the support of ground operations against Communist insurgents during the Malayan Emergency. TUDM received the first combat aircraft with the delivery of 20 Canadair CL41G Tebuan (an armed version of the Canadair Tutor trainer). TUDM also received the Aérospatiale Alouette III helicopters, used in the liaison role.

With the formation of Malaysian Federation on September 16, 1963, the name of the force was changed to "Tentera Udara Diraja Malaysia" or Royal Malaysian Air Force". New types introduced into service included the Handley Page Herald transport and the De Havilland Canada DHC-4 Caribou. TUDM received the Sikorsky S-61A-4 helicopters in the late sixties and early seventies and used in the transport role. TUDM gained an air defence capability when the Australian Government donated 10 ex-RAAF CAC Sabre fighters. These were based at the Butterworth Air Base.

After the withdrawal of British military forces from Malaysia and Singapore at the end of 1971, a five-nation agreement between Malaysia, Singapore, New Zealand, Australia, and the United Kingdom was concluded to ensure defense against external aggression. The Royal Australian Air Force maintained a Mirage IIIO squadron at the Butterworth Air Base as part of its commitment to the Five Power Defence Agreement. This squadron has been withdrawn since 1983 though occasional deployments of RAAF aircraft continue.

[edit] Modernization

With the withdrawal of the British military forces, TUDM underwent gradual modernisation in the 1970s and through the 1990s. The CA27 Sabre were replaced by 16 Northrop F-5E Tigers. A reconnaissance capability was acquired with the purchase of 2 RF-5E Tigereye aircraft. TUDM also purchased 88 Ex US Navy McDonnell Douglas A-4C Skyhawks and Grumman Bethpage refurbished 40 of the airframes into the A-4PTM (Peculiar To Malaysia) configuration (similar to A-4M standard). TUDM has traditionally looked to the West for its purchases, primarily to the United States. However, limitation imposed by the United States on "new technology" to the region such as the AIM-120 AMRAAM fire and forget air to air missiles has made TUDM consider purchases from Russia and other non-traditional sources.

The '90s saw the arrival first with the BAE Hawk Mk108/208 which replaced the T/A-4PTM's followed by the MiG-29N/NUB in 1995 to take on the air superiority role, and finally the delivery of the F/A-18D Hornet in 1997 to provide the all weather interdictor capability. In 2003 a contract was signed for eighteen Su-30MKMs for delivery in 2007 to fulfill a requirement for an initial order batch of multi-role combat aircraft (MRCA). A requirement for a further eighteen MRCAs remains unfulfilled. TUDM is also looking for an AWACS aircraft, though no firm orders have been placed.

On 8 December 2005 four Airbus Military A400M aircraft were ordered to enhance the airlift capability. The first Malaysian A400M aircraft will be delivered in 2016.[2] In late 2006 the Government signed a contract to purchase 8 Aermacchi MB-339CMs to add to the 8 older MB-339AMs currently in service.

In March 2007, then-Deputy Prime Minister and Defence Minister Najib Tun Razak clarify to the public that the MiG-29s will continue in service until the year of 2010. Later that year, Najib announced the Nuri (Sikorsky S-61A-4) helicopter, in service since 1968 with 89 crew members killed in 15 accidents, would be phased out by 2012 and replaced by the Eurocopter AS 532 Cougar.[3] Deputy RMAF Chief Lt Gen Bashir Abu Bakar told media news after opening of the Heli-Asia 2007, that tender assessment for the replacement of the Sikorsky S-61A-4 would occur in early 2008.[4]

In June 2009, RMAF chief Jeneral Azizan Ariffin said that the air force will replace their MiG-29 with better aircraft that have high agility and the capability to attack and overcome the enemy forces.[5]

Northrop RF-5E Tigereye used for tactical reconnaissance

[edit] Ranks of The Royal Malaysian Air Force

See Also Supreme Commander of the Malaysian Armed Forces

Up until the late 1970s, the Royal Malaysian Air Force used the same officer ranking system as the Royal Air Force. These ranks were replaced by army-style ranks and the list of ranks which are currently used is shown below from the highest rank to the lowest rank.

Flag Officer

Rank Air Chief Marshal Air Marshal Air Vice Marshal Air Commodore

Commissioned Officer

Rank Group Captain Wing Commander Squadron Leader Flight Lieutenant Flying Officer Section/Pilot Officer Cadet Officer

Enlisted

Rank Master Aircrew Flight Sergeant Chief Technician Sergeant Corporal Junior Technician Senior Aircraftman Leading Aircraftman Aircraftman

[edit] Royal Malaysian Air Force

Insignia
Description
US-O7 insignia.svg Brigadier General
(Brigedier Jeneral)
Typically serves as Deputy Commander to the Commanding General of a division and assists in overseeing the planning and coordination of a mission. In an infantry brigade not attached to a division, a Brigadier General serves as the unit's commander, while a Colonel serves as deputy commander.
US-O8 insignia.svg Major General
(Mejar Jeneral)
Typically commands division-sized units (10,000 to 16,000 soldiers).
US-O9 insignia.svg Lieutenant General
(Leftenan Jeneral)
Typically commands corps-sized units (20,000 to 45,000 soldiers).
US-O10 insignia.svg General
(Jeneral)
Commands all operations that fall within his geographical area. The Chief of Defence Force and the Chief of the Air Force are four-star Generals.
US-O11 insignia.svg Marshal of the Royal Malaysian Air Force
(Marshal Udara)
This rank is only used by the Malaysian High Majesty as a Supreme Commander of the Malaysian Armed Forces.

[edit] Assets

A TUDM MiG-29 in formation with a US Navy F-14 Tomcat
Four TUDM F/A-18 aircraft perform aerial maneuvers for exhibition crowds.
CASA 235 serial number M44-03 of the Royal Malaysian Air Force at 2006 Royal International Air Tattoo, Fairford, England.
Total Aircraft In Service 226 (36 orders)

[edit] Organisation

  • 1st Division
    • 2 Squadron Fokker F-28 Fellowship, Falcon 900, Global Express, Boeing BBJ (737-700) Subang AFB
    • 3 Squadron S-61A4A Nuri Butterworth AFB
    • 6 Squadron BAE Hawk 108/Hawk 208 Kuantan AFB
    • 10 Squadron S-61A4A Nuri Kuala Lumpur AFB
    • 11 Squadron Su-30MKM Flanker Gong Kedak AFB
    • 12 Squadron Northrop F-5E, F-5F, RF-5E Butterworth AFB
    • 15 Squadron BAE Hawk 108/Hawk 208, Aermacchi MB-339AM Butterworth AFB
    • 16 Squadron Beech 200T Subang AFB
    • 18 Squadron Boeing F/A-18D Hornet Butterworth AFB
    • 19 Squadron MiG 29N/UB Kuantan AFB
    • 20 Squadron Lockheed C-130H Hercules, C-130T Subang AFB
    • 21 Squadron CN-235-200M Subang AFB
  • 2nd Division
    • 5 Squadron S-61A4A Nuri Labuan AFB
    • 7 Squadron S-61A4A Nuri Kuching AFB
    • 14 Squadron Lockheed C-130H Hercules Labuan AFB
  • Training Division
    • 1 FTC PC-7, PC-7 Mk II, Alor Setar AFB
    • 2 FTC Alouette III Alor Setar AFB
    • 3 FTC MB-339AM,MB-339CM Kuantan AFB

[edit] Airbases

Airbases include:

[edit] Special Forces

The elite arm of the RMAF is known as PASKAU (Malay acronym for Pasukan Khas Udara, loosely means Special Air Unit). In the peacetime, the unit is tasked with responding to aircraft hijacking incidents as well as protecting Malaysia's numerous offshore RMAF airbases and civilian airports. Its wartime roles include ground designation, sabotaging of enemy air assets and equipments and the defense of RMAF aircraft and bases. This unit is also deployed to counter-terrorism duties and also urban CQB.

[edit] Missing Jet Engines Scandal

In May 2008, two J85-GE-21 engines that power the Northrop F-5E Tiger II fighter jets belonging to the Royal Malaysian Air Force were reported missing, as of sometime in 2007, from a RMAF gowdown in Kuala Lumpur during Najib's tenure as Defence Minister in Abdullah Ahmad Badawi's Cabinet. The jets engines belonging to the 12th Squadron (Scorpion) based in Butterworth. The issue became a matter of political dispute,[6] and it was reported a brigadier-general,40 other armed forces personnel, had been sacked over the incident.[7] On January 6, 2010, two Malaysians, an air force sergeant and a civilian contractor, were charged in connection with the theft and disposal of both engines.[8]

[edit] Engines diverted to Uruguay

On February 5, 2010, Attorney-General Abdul Gani Patail revealed that the two missing F5E jet engines have been found in Uruguay with the help of the Government of Uruguay and the Malaysian government is proceeding with the necessary measures to secure their return. Investigations showed that the engines were taken out of the RMAF base on Dec 20, 2007 and Jan 1, 2008, and sent to a gowdown in Subang Jaya before being shipped out of Malaysia to South America.

[9] [10]


SUMBER WIKIPEDIA

MENANTI 3 SUKHOI



INILAH.COM, Makassar - Rusia resmi menyerahkan 3 pesawat tempur Sukhoi 30 MK2 kepada Indonesia. Dengan demikian TNI telah memiliki 7 Sukhoi. Agar 'koleksinya' lengkap dan ideal, TNI menunggu kedatangan 3 unit lagi.

"Satu skuadron idealnya 10 unit. Agustus mendatang jumlah Sukhoi bisa lengkap, sehingga semuanya bisa segera beroperasi. Diharapkan TNI AU bisa mengoptimalkan operasinya dalam menjaga yurisdiksi nasional," sebut Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

Penyerahan resmi Sukhoi TS-3003, TS-3004 dan TS-3005 berlangsung di Gedung Galaktika, Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (2/2). Sebelumnya potongan Sukhoi tiba di Makassar pada secara bertahap pada Desember 2008 hingga Januari 2009. Dilanjutkan dengan proses perakitan di hanggar Skuadron Teknik 044, kemudian test flight oleh instruktur dari Rusia.

Usai penyerahan resmi, Sjafrie menyempatkan diri memeriksa langsung ketiga Sukhoi. Sjafrie kemudian membacakan kata sambutan Menhan Juwono Sudarsono. Disebutkan, pengadaan Sukhoi bagian dari pengadaan alutsista yang dapat memperkuat TNI AU, khususnya Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin.

"Ini didasarkan pertimbangan taktik dan strategi untuk memelihara kedaulatan RI. Kita berharap agar penempatan pesawat tempur ini bisa menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sulsel dan rakyat Indonesia secara umum yang ditempuh TNI AU," sebut Sjafrie.

Anggaran Sukhoi, tutur Sjafrie, sebesar US$ 335 juta yang diambil dari APBN. Ini merupakan pinjaman dari pemerintah Rusia yang harus dikembalikan dalam waktu yang tidak ditentukan dengan cara dicicil.

Mengenai kelengkapan alutsista Malaysia, Singapura dan Australia yang melebihi

Indonesia, Sjafrie mengatakan, pemeliharaan kedaulatan NKRI tidak hanya bertumpu pada alutsista, tapi

juga pada sistem pertahanan negara yang terintegrasi. Sebab, tidak dapat dipungkiri Indonesia mengalami keterbatasan anggaran.

Soal sistem pembayaran Sukhoi, Wakasau Marsekal Madya TNI Wardjoko menjelaskan, cicilan akan dibayar pada tahun keenam. Jadi hingga 5 tahun mendatang,

RI diberikan kelonggaran oleh Rusia belum melakukan pembayaran.

Sementara Dubes Rusia untuk RI Alexander Ivanov mengatakan, penguasaan Sukhoi memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk itu para ahli memberikan training dua tahap, yakni sisi teori dan praktek, yang hingga kini masih berlangsung. [sss]

inilah.com

KENAPA MEMBELI SUKHOI ?

Kamis, 29 Juli 2010

PERTIMBANGAN POLITIK

Seperti yang disampaikan oleh rekan2 diatas, alasan utama dipilihnya Sukhoi tsb erat kaitannya dengan masalah "politik".
Flashback ke sekitar tahun 1995. Indonesia sebenarnya tertarik akan penawaran AS yang bersedia menjual 9 unit pesawat F-16A Block 15. (** Pesawat2 tsb sebenarnya merupakan pesanan Pakistan, namun terkena embargo AS terkait program nuklir Pakistan). Rencananya pesawat2 F-16 tsb akan dibeli untuk melengkapi 12 unit pesawat F-16A Block 15OCU yang telah dimiliki TNI-AU sejak kontrak pengadaan pesawat tempur-sergap melalui program Bima Sena (1986).

Perjanjian kontrak pembelian tambahan F-16 tsb ditandatangi tahun 1996 oleh KASAU Marsekal TNI Sutria Tubagus. Pada tahun yg sama Bill Clinton terpilih kembali sebagai presiden AS, namun pada periode ini kebijakan politik AS tidak menguntungkan Indonesia. Indonesia sering dituding masalah pelanggaran HAM, hal yang membuat Presiden Soeharto membatalkan kontrak pembelian pesawat F-16 tsb pada tahun 1997, dan mulai melirik penggantinya yaitu Sukhoi Su-27 Flanker, yang sempat diperagakan dan diuji-coba oleh beberapa penerbang "Elang Biru" saat event "Indonesia Air Show" 1996 di Jakarta.

Krisis moneter pada tahun 1998 menyebabkan penundaan pembelian Sukhoi Flanker tsb. Indonesia kemudian terkena embargo militer oleh AS pada tahun 1999 berkaitan dengan peristiwa di Timor Timur. Embargo tsb menyebabkan kelangkaan suku-cadang yang sangat berpengaruh terhadap kesiapan operasional alutsita nasional. Saat itu, hampir keseluruhan F-16, F-5 & hawk kita terpaksa di-grounded karena sulitnya suku-cadang akibat embargo AS & konco2nya. Hal inilah yang kemudian mendorong kita untuk berpaling ke produk2 buatan Timur (Rusia, China), sebagai salah satu cara untuk meminimalkan ketergantungan akan produk2 Barat yang sarat dengan kepentingan politik negara penjual. Kontrak pembelian pesawat Sukhoi yang sempat tertunda tsb akhirnya dilanjutkan kembali tahun 2003 saat Megawati menjabat sebagai presiden.

Beralihnya Indonesia ke pesawat tempur buatan Rusia ini sebenarnya bukan suatu hal yang benar2 baru. Menengok lebih jauh kebelakang, Indonesia bahkan 'pernah' mencapai kejayaan sebagai negara terkuat dengan kekuatan udara terbesar di belahan bumi selatan (Perioda Trikora 1961 - periode akhir Orde Lama). Diharapkan, pembelian pesawat2 tempur buatan Rusia ini dalam jangka pendek bisa melepas ketergantungan kita terhadap produk Barat sehingga kita memiliki kebebasan untuk memilih perangkat & teknologi yang sesuai dengan konsep & strategi pertahanan nasional, karena :

    " ... having top-notch fighters without the freedom to use them will gain nothing in air superiority contest "



PERTIMBANGAN TEKNIS

Kenapa pilih Sukhoi, bukan Mikoyan-Gurevich (MiG)?
Hal ini terkait luasnya wilayah udara yang mesti di-cover sesuai konsep & strategi pertahahanan udara. Tentu pilihannya menjadi lebih sulit dibandingkan negara2 tetangga yang raunag udaranya lebih sempit namun memiliki anggaran belanja militer jauh lebih besar dibandingkan kita.

Sukhoi inilah yang paling sesuai, bukan saja karena memiliki faktor "deterrence" yang cukup tinggi; namun juga karena memiliki jarak-tempur (combat range) yang mumpuni untuk men-cover wilayah udara RI yg sangat luas.

Sebagai perbandingan jarak jelajah & jarak tempurnya :
code:
Su-27 Flanker
----------------------------------------------------------------------
Max Speed : 2500 km/h (at 36000 ft = Mach 2.35)
Service Ceiling : 59,055 ft (18,000 m)
Typical Range : 3,500 km
Combat Range : 1,500 km with max payload
Ferry Range : 4,000 km with ext. drop tanks


MiG-29 Fulcrum
----------------------------------------------------------------------
Max Speed : 2,445 km/h ( at 36000 ft = Mach 2.3)
Service Ceiling : 60,700 ft (18,500 m)
Typical Range : 1,500 km
Combat Range : 630 km with max payload
Ferry Range : 2,900 km with ext.drop tanks



Selain itu, Sukhoi menawarkan varian2 yang lebih lengkap; air-superiority interceptor, strike & multirole, dan antara varian2 tersebut memiliki "commonality" sehingga service-interoperability lebih mudah serta daya dukung/ operational-availibilty yang lebih besar. Sedangkan Mikoyan MiG-29M multirole variant hingga saat ini masih belum ada versi exportnya. (CMIIW)

Secara hitung2an ekonomi, initial cost of ownership (ICO)-nya pun masih masuk masuk akal, walaupun 'mungkin' hitung2an total cost of ownership (TCO) gak terlalu beda jauh dengan pesawat tempur buatan Barat. Jadi, secara jangka pendek kita diuntungkan karena bisa memiliki fighter dengan ICO rendah, secara jangka panjang TCO-nya 'mudah-mudahan' bisa diakali dengan menggunakan indegenous-components. Sapa tau malah bisa dapet license buat bikin indegenous-variant seperti India & China. Semoga ....


-budi-

SUKHOI TNI AU

Indonesia: BACK TO TOP
Delivered: 2x Su-27SK, 2x Su-30MK, 3x Su-30MK2
Service: 2x Su-27SK, 2x Su-30MK, 3x Su-30MK2
On order: 3x Su-27SKM
First delivered: 27 August 2003 (1st order)
2 February 2009 (2nd order)
Last delivered: September 2003 (1st order)
~2010 (2nd order)
Units: Skadron Udara 11 (11th Air Squadron), Saltan Hassanuddin Air Base, Makassar, South Sulawesi
Information: In 2003 the government of Indonesia ordered two Su-27SK (serial TS2701 and TS2702) single-seat and two Su-30MK (serial TS3001 and TS3002) multi-purpose twin-seat aircraft to replace the ageing and gounded fleet of 20 A-4/TA-4 Skyhawks of the Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU - Indonesian Air Force). The order was part of a medium term plan to establish four new fighter squadrons before 2010, however these plans have been scaled down.
The Indonesian Su-30MK twin-seat aircraft were first reported to be designated Su-30KI, confusingly this designation had already been used for a new single-seat version specially developed for Indonesia. Indonesia had already signed a contract for 24 of these single-seat Su-30KI back in September 1997. However the contract was cancelled in 1998 as a result of the Asian economic crisis.
Indonesia's Su-30MKs are KnAAPO built examples similar to China's Su-30MKK. The Indonesian Su-30MK are sometimes also referred to as Su-30MKI or Su-30MK(I). The I clearly standing for Indonesia, and not referring to India's Su-30MKI version built by Irkut.
In June 2006, it was announced that Indonesia planned to procure six additional Flankers from Russia. It was also made public that the four aircraft procured in 2003 had been inactive awaiting upgrade of their communication systems, which were incompatible with the Indonesian systems in use, and that no weapons were bought.
On 21 August 2007, on the opening day of MAKS 2007, Indonesia signed an agreement with Rosoboronexport for the purchase of three Su-27SKM upgraded multi-role single-seat export variants and three Su-30MK2 two-seat multirole derivatives, similar to those supplied to China, Vietnam and Venezuela. On the same day, Sukhoi also revealed it had signed a Memorandum of Understanding with Indonesia on the delivery of the six fighters. The value of the contract was reported to be USD 300 million. More than a year later, the order was formalised in November 2008, when Indonesia had finally secured sufficient financing to cover the deal.
Two new Su-30MK2s arrived on board an An-124 on December 26, 2008, at Saltan Hassanuddin air base, Makassar. The aircraft, with serials TS3003 and TS3004, were first flown from Saltan Hassanuddin on January 6, 2009, by a Russian pilot to test all on-board systems. The third and final Su-30MK2 (serial TS3005) also arrived by An-124 at the base on January 17, 2009. Following re-assembly and test flights, TS3005 was delivered on January 25, 2009. All three Su-30MK2s were subsequently formally handed over to the TNI-AU on February 2, 2009.
The three new Su-30MK2 two-seaters join the two Su-27SK single-seaters and two Su-30MK two-seaters operated by the TNI-AU's Skadron Udara 11 at Saltan Hassanuddin air base. The three Su-27SKM single-seaters (likely to be serialled TS2703 thru TS2705) on order are expected to be delivered in stages later in 2009 and 2010.
http://www.milavia.net/aircraft/su-27/su-27_operators.htm#indo

RUSIA BERKOMITMEN PERCEPAT PENGIRIMAN SUKHOI TNI-AU Jakarta - Pemerintah Rusia berkomitmen untuk mempercepat pengiriman tiga pesawat jet tempur Sukho




Jakarta - Pemerintah Rusia berkomitmen untuk mempercepat pengiriman tiga pesawat jet tempur Sukhoi yang dipesan Pemerintah Indonesia untuk TNI Angkatan Udara.

"Kami akan membantu percepat pengiriman tiga pesawat Sukhoi bagi TNI Angkatan Udara," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander. A. Ivanov seperti dikutip juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI FH Bambang Soelistyo ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Senin.

Komitmen Pemerintah Rusia itu disampaikan Ivanov saat mengadakan kunjungan kepada Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Imam Sufa`at yang berlangsung tertutup.

Bambang mengatakan, keterlambatan pengiriman tiga Sukhoi seri SU-27SKM itu disebabkan masalah teknis administrasi yang akan segera diselesaikan pemerintah Rusia.

Semula tiga pesawat jet tempur Sukhoi dijadwalkan tiba Desember 2009 dan Januari 2010 namun karena permasalahan teknis administrasi maka diundur menjadi Oktober 2010.

"Ya kami berharap ketiganya bisa tiba lebih cepat dari Oktober 2010, karena tambahan tiga pesawat Sukhoi itu sangat memadai untuk memberikan efek tangkal. Dan Pemerintah Rusia sangat memahami," tutur Bambang.

Ia mengemukakan, kesiapan tiga pesawat Sukhoi jenis SU-27SKM itu tidak ada masalah dan siap diterbangkan ke Indonesia.

Pada sejak 2003, Indonesia telah memiliki tujuh pesawat tempur Sukhoi yang diadakan dari Rusia. Pada 2003, Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007 setelah perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur tersebut kepada Indonesia senilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Rusia juga menjamin keberlangsungan pendidikan bagi para pilot dan teknisi TNI Angkatan Udara untuk memperdalam operasional Sukhoi.

"Ya mereka berkomitmen juga untuk tetap memberikan pendidikan bagi para pilot dan teknisi kita untuk operasional Sukhoi, meski kita juga mendidik mereka di China," demikian Bambang.


Sumber : Antara

TNI AU di Antara Modernisasi AU ASEAN

Rabu, 28 Juli 2010


Oleh : Ninok Leksono

Perihal tua dan rendahnya tingkat kesiapan alat utama sistem senjata atau alutsista TNI telah banyak diangkat dalam laporan media massa. Sampai akhirnya—menyusul terjadinya musibah yang menimpa kendaraan amfibi Korps Marinir—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar alutsista tua tidak digunakan lagi.

Tindak lanjut yang sebetulnya masuk akal adalah mengganti alutsista tua yang tidak layak dioperasikan lagi. Tetapi dalam realita, khususnya di era keterbatasan anggaran dan prioritas pemenuhan kebutuhan rakyat yang lebih urgen, pengadaan alutsista menjadi persoalan pelik. Lebih-lebih ketika muncul berita bahwa anggaran pertahanan akan dipangkas.

Membatasi pembicaraan untuk lingkup kekuatan udara, wacana yang muncul di sela-sela pameran kedirgantaraan Singapore Airshow yang berlangsung di Changi Exhibition Center, Singapura, 19-24 Februari, menggugah kita.

Menyusul pembelian dua jet Sukhoi Su-27 dan dua Su-30MK lima tahun silam, wacana untuk menambah armada Sukhoi terus bergulir, karena memang hanya dengan empat pesawat, deterens yang diinginkan belum dapat ditegakkan, lebih-lebih ketika pesawat tersebut—hingga akhir tahun kemarin—tidak dilengkapi dengan persenjataan.

Jalan keluar bagi pendanaan pembelian tambahan Sukhoi muncul ketika Pemerintah Rusia menawarkan kredit negara kepada Indonesia.

Seperti dilaporkan oleh Nikolai Novichov di jurnal Aviation International News yang terbit 19 Februari lalu, dengan kredit Rusia tersebut Indonesia telah menyusun daftar belanja yang disebut tambah panjang (Indonesia extends arms wish list).


Flanker Su-30MK2 dan Su-27SKM (skadron 11) di Lanud Hasanuddin.

Termasuk dalam daftar adalah 20 Su-30MK2, sejumlah pesawat latih Yak-130, empat kapal selam Proyek 636 Kelas-Kilo dan dua kapal selam Proyek Amur-1650, 10 helikopter angkut militer Mi-17, lima heli penyerang Mi-35M, 20 kendaraan tempur infanteri BMP-3F, sejumlah korvet dan kapal lain, serta sistem pertahanan udara yang total bernilai miliar dollar AS.

Dalam implementasinya, seperti disampaikan ketika Presiden Vladimir Putin berkunjung ke Indonesia September silam, kredit yang ditawarkan sebesar 1 miliar dollar AS kemudian dicairkan dalam dua tahap, masing- masing 500 juta dollar AS.

Dari pencairan tahap pertama, antara 250 juta dollar sampai 300 juta dollar, digunakan untuk penambahan enam Sukhoi—tiga Su-27SKM dan tiga Su-30MK2. Keenam jet ini diberitakan akan diserahkan antara tahun 2008 dan tahun 2010.

TNI AU berencana membentuk dua skadron Sukhoi —total 24 pesawat—pada tahun 2010 nanti.

http://alutsista.blogspot.com/2008/02/tni-au-di-antara-modernisasi-au-asean.html

CN-235 Akan Dipamerkan di “Expo Indonesia 2010″ Banglades

Jakarta – Dalam soal penguasaan teknologi canggih, bangsa Indonesia telah lama mampu mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu menikmati kemajuan itu. Penguasaan teknologi canggih tersebut bahkan jauh sebelum ini, telah CN-235 militermendapat pengakuan bangsa-bangsa di dunia.

Salah satu produk teknologi canggih kebanggaan hasil karya putra-putri Indonesia itu adalah pesawat CN-235. Pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang berlokasi di Bandung itu, rencananya akan ikut meramaikan “Expo Indonesia 2010″ yang diadakan pada 11-13 Mei 2010, di Banglades.

Sejumlah negara telah menggunakan pesawat CN-235 baik versi sipil maupun versi militer diantaranya Venezuela, Philipina, Thailand, Korea, Malaysia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Brunai, Bukina, dan Indonesia sendiri.

Selain CN-235, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga memproduksi jenis pesawat yang lebih besar yakni N-250. Untuk jenis helikopter, PTDI juga memproduksi jenis NBell-412, NAS-332 Super Puma, dan NBO-105 CB/S.

Dengan keikutsertaan CN-235 di Expo Indonesia 2010 yang mengambil tema Integrated Expo 2010: Discover Indonesia, the Beauty Unlimited tersebut, diharapkan keunggulan bangsa Indonesia dapat lebih dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Menurut Duta Besar RI untuk Banglades di Dhaka, Zet Mirzal Zainuddin yang disampaikan di Jakarta beberapa waktu lalu, mengemukakan bahwa pameran tersebut akan juga menampilkan berbagai produk ekspor dari industri strategis dan nonstrategis Indonesia.

Sementara produk dari industri strategis yang ditampilkan pada pameran itu, selain produk dari CN-235 dari PT DI, juga ditampilkan produk kebanggan Indonesia lain seperti dari industri peralatan kendaraan militer dari PT PINDAD, serta gerbong kereta api buatan PT INKA.

http://www.maiwanews.com/berita/cn-235-akan-dipamerkan-di-expo-indonesia-2010-banglades/

TNI AU Akan Beli Pesawat Tempur Pengganti Hawk MK-53

Hawk MK-53Jakarta – TNI AU akan mengganti pesawat Hawk MK-53 sebagai pesawat latih bagi penerbang tempur baru. Terdapat empat jenis pesawat tempur yang akan dipilih dalam seleksi akhir sebelum penentuan final.

“Untuk (pengganti) MK-53 sekarang dalam proses pengadaan. Kita dalam tahap lelang sudah, pengumuman sudah. Tinggal masukan kalau tidak salah penawaran harga,” ujar KSAU Marsekal Imam Sufaat di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Rabu, 7 April 2010.

Empat tipe pesawat pengganti yang lolos ke tahap akhir adalah T50 Golden Eagle buatan Korea Selatan, Yakovlev Yak 130 buatan Rusia, Aero L159 Alca buatan Ceko, dan FTC 2000 buatan China.

T-50 merupakan produksi Industri Pesawat Terbang Korea Selatan yang berfungsi sebagai pesawat latih supersonik dan penyerang ringan. Pengguna utamanya adalah militer Korea Selatan dengan harga mencapai 21 juta dolar Amerika pada tahun 2008.

Yakovlev Yak 130 merupakan pesawat latih subsonik yang bisa juga difungsikan sebagai penyerang ringan. Pesawat ini digunakan oleh militer Rusia dan berharga 15 juta dolar Amerika.

L159 Alca dioperasionalkan sebagai pesawat tempur ringan yang diproduksi oleh Aero Vodochody. Pengguna utama adalah militer Ceko sejak tahun 90-an. Harganya berkisar 15-17 juta dolar Amerika.

FTC2000 merupakan pesawat latih dua kursi buatan Guizhou Aircraft Industry Corporation. Pesawat ini digunakan oleh Angkatan Udara China dan jumlahnya dibuat secara terbatas.

Upaya penggantian pesawat Hawk MK-53 telah lama dilakukan, mengingat sebelumnya pesawat tempur buatan Inggri itu pernah tidak dapat terbang dalam waktu lama karena mengalami kerusakan mesin yang cukup parah.

Hawk MK-53 pertama kali masuk ke Indonesia pada tanggal 29 September 1980. Masa pakai pesawat tempur yang pernah dilarang digunakan oleh Inggris untuk operasi militer di Aceh tersebut akan habis pada tahun 2011 mendatang.

http://www.maiwanews.com/berita/tni-au-akan-beli-pesawat-tempur-pengganti-hawk-mk-53/


Indonesia in talks to buy Russian amphibious tanks

Selasa, 27 Juli 2010


17:30 19/09/2008
MOSCOW, September 19 (RIA Novosti) - Indonesia is negotiating a deal to buy Russian amphibious tanks, the country's ambassador to Moscow said Friday.

"We are currently discussing the possibility of buying amphibious tanks from Russia," Hamid Awaluddin told a RIA Novosti news conference.

He did not specify the make or the number of tanks under consideration, but stressed that military-technical cooperation between Russia and Indonesia was developing "quite successfully."

In late August, Russia's state-run arms exporter Rosoboronexport and the Indonesian Defense Ministry signed a $40 million contract for the delivery of 20 BMP-3F infantry fighting vehicles, to be made in 2010.

The BMP-3F is specially designed for operations at sea, and with improved seaworthiness and buoyancy it can handle continuous amphibious operation for seven hours.

The vehicle is capable of engaging targets at a range of up to 6 km with its antitank guided missile system 9K116-3 Basnya

Indonesia buys 20 Russian infantry fighting vehicles

13:48 27/08/2008
JAKARTA, August 27 (RIA Novosti) - Indonesia will buy 20 Russian BMP-3F infantry fighting vehicles, the Russian ambassador to Jakarta has said.

Alexander Ivanov said representatives of the Russian arms exporter Rosoboronexport and the Indonesian Defense Ministry signed a $40 mln contract on Monday for the delivery of a consignment of BMP-3F infantry fighting vehicles.

A Rosoboronexport spokesman said the delivery would be made in 2010.

The new IFVs will replace the PT-76 vehicles that are currently in service with the Indonesian armed forces.

The BMP-3F is specially designed for operations at sea, with improved seaworthiness and buoyancy, and high fire accuracy. It can endure continuous amphibious operation for seven hours.

The vehicle is capable of engaging targets at a range of up to 5,000-6,000 meters with its antitank guided missile system 9K116-3 Basnya.

Russia to deliver last of six Su fighters to Indonesia in 2010


Russia to  deliver last of six Su fighters to Indonesia in 2010
Russia to deliver last of six Su fighters to Indonesia in 2010
09:37 13/11/2009
© RIA Novosti. Iliya Pitalev

MOSCOW, November 13 (RIA Novosti) - Russia will deliver the last of six contracted Su fighter jets to Indonesia in 2010, a Russian Federal Service for Military and Technical Co-Operation deputy director said on Friday.

Under a $300 million contract, signed in 2007, Russia is to supply three Su-30MK2 and three Su-27SKM fighters to Jakarta.

"Under the contract, two Su-27SK jets must be delivered by the end of 2009. One more fighter will be delivered in 2010," Konstantin Birulin said.

The third Su-30MK2 jet was delivered in January.

Indonesian Armed Forces Commander Air Marshal Djoko Suyanto said in 2007 that the country needed at least one squadron equipped with 16 Sukhoi fighters to replace part of the outdated fleet of U.S. F-16 fighters

http://en.rian.ru/russia/20091113/156818448.html