Lapan Siap Luncurkan Dua Satelit

Rabu, 21 Juli 2010




JAKARTA (BCZ) – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan meluncurkan dua satelit pada kuartal kedua tahun 2011. Satelit yang diberi nama Lapan-A2 dan Lapan-Orari itu kini sedang dalam proses pematangan desain untuk segera diorbitkan secara mandiri oleh Lapan. Suksesnya peluncuran secara mandiri itu akan menandai era baru perteknologian nasional di bidang teknologi roket dan satelit.

“Integrasi satelit akan dilakukan sepenuhnya di Indonesia,” ujar Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara, Lapan, Toto Marnanto Kadri pada workshop Teknologi survei kebumian dan pemetaan di Jakarta, Kamis (8/7) kemarin.

Toto menjelaskan, Lapan-A2 dirancang untuk mendukung upaya mitigasi bencana dengan pengamatan bumi. Satelit itu juga dapat digunakan memperoleh informasi sumber daya alam (SDA), tata ruang dan lingkungan. Fungsi lain Lapan-A2 juga mencover kebutuhan data di bidang cuaca, navigasi kapal laut, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan hankam.

Sedangkan Lapan-Orari untuk mendukung Organisasi Radio Amatir Indonesia, dalam upaya mitigasi bencana untuk pengamatan bumi dengan penginderaan jarak jauh, penggunaan lahan, sumber daya alam dan pemantauan lingkungan.

Satelit Lapan-A2 akan membawa kamera digital untuk kebutuhan navigasi kapal di laut, sedangkan Lapan-Orari akan membawa kamera untuk penginderaan jauh, serta radio amatir, baik untuk komunikasi digital maupun komunikasi analog. “Muatan kemera tersebut masih kerjasama dengan Jerman dengan komponennya sebagian besar masih impor,” paparnya.

Lapan memang menargetkan pada 2010 sudah mampu mengorbitkan satelit sendiri. Saat ini Lapan sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Kemampuan Lapan saat ini adalah meluncurkan satelit Nano dengan berat di bawah 10 kilogram. Satelit Nano dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembaban udara dan data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit.

Deputi Teknologi Aerospace Lapan, Soewarto Hardhienata mengatakan, pembatasan impor propelan yang menjadi bahan baku peluncuran roket menjadi kendala bagi Lapan untuk segera mengorbitkan satelit sendiri. “Memang selama ini impor propelan dibatasi, padahal untuk meluncurkan roket pengorbit satelit kami membutuhkan propelan yang cukup besar,” kata dia.

Menurut dia, untuk saat ini pihaknya sedang mengupayakan dapat mencukupi kebutuhan propelan sendiri. Produksi propelan dalam negeri saat ini baru sekitar dua juta ton per tahun. Sedangkan untuk melontarkan satu roket ukuran besar pengorbit satelit diperlukan 20 ton propelan. Ia mengatakan, dana pengembangan dan penelitian di Lapan untuk pengembangan teknologi antariksa dan kedirgantaraan pada tahun ini ditambah oleh pemerintah melalui persetujuan DPR sebanyak Rp 50 miliar per tahun.

“Setelah kami lakukan presentasi di DPR dan mereka dapat melihat kemampuan kami dalam membuat satelit dan roket peluncur, mereka justru menantang untuk segera dapat mengorbitkan satelit sendiri, khususnya satelit nano dengan berat di bawah 10 kilogram,” katanya

sumber : LAPAN

0 komentar: