KENAPA MEMBELI SUKHOI ?

Kamis, 29 Juli 2010

PERTIMBANGAN POLITIK

Seperti yang disampaikan oleh rekan2 diatas, alasan utama dipilihnya Sukhoi tsb erat kaitannya dengan masalah "politik".
Flashback ke sekitar tahun 1995. Indonesia sebenarnya tertarik akan penawaran AS yang bersedia menjual 9 unit pesawat F-16A Block 15. (** Pesawat2 tsb sebenarnya merupakan pesanan Pakistan, namun terkena embargo AS terkait program nuklir Pakistan). Rencananya pesawat2 F-16 tsb akan dibeli untuk melengkapi 12 unit pesawat F-16A Block 15OCU yang telah dimiliki TNI-AU sejak kontrak pengadaan pesawat tempur-sergap melalui program Bima Sena (1986).

Perjanjian kontrak pembelian tambahan F-16 tsb ditandatangi tahun 1996 oleh KASAU Marsekal TNI Sutria Tubagus. Pada tahun yg sama Bill Clinton terpilih kembali sebagai presiden AS, namun pada periode ini kebijakan politik AS tidak menguntungkan Indonesia. Indonesia sering dituding masalah pelanggaran HAM, hal yang membuat Presiden Soeharto membatalkan kontrak pembelian pesawat F-16 tsb pada tahun 1997, dan mulai melirik penggantinya yaitu Sukhoi Su-27 Flanker, yang sempat diperagakan dan diuji-coba oleh beberapa penerbang "Elang Biru" saat event "Indonesia Air Show" 1996 di Jakarta.

Krisis moneter pada tahun 1998 menyebabkan penundaan pembelian Sukhoi Flanker tsb. Indonesia kemudian terkena embargo militer oleh AS pada tahun 1999 berkaitan dengan peristiwa di Timor Timur. Embargo tsb menyebabkan kelangkaan suku-cadang yang sangat berpengaruh terhadap kesiapan operasional alutsita nasional. Saat itu, hampir keseluruhan F-16, F-5 & hawk kita terpaksa di-grounded karena sulitnya suku-cadang akibat embargo AS & konco2nya. Hal inilah yang kemudian mendorong kita untuk berpaling ke produk2 buatan Timur (Rusia, China), sebagai salah satu cara untuk meminimalkan ketergantungan akan produk2 Barat yang sarat dengan kepentingan politik negara penjual. Kontrak pembelian pesawat Sukhoi yang sempat tertunda tsb akhirnya dilanjutkan kembali tahun 2003 saat Megawati menjabat sebagai presiden.

Beralihnya Indonesia ke pesawat tempur buatan Rusia ini sebenarnya bukan suatu hal yang benar2 baru. Menengok lebih jauh kebelakang, Indonesia bahkan 'pernah' mencapai kejayaan sebagai negara terkuat dengan kekuatan udara terbesar di belahan bumi selatan (Perioda Trikora 1961 - periode akhir Orde Lama). Diharapkan, pembelian pesawat2 tempur buatan Rusia ini dalam jangka pendek bisa melepas ketergantungan kita terhadap produk Barat sehingga kita memiliki kebebasan untuk memilih perangkat & teknologi yang sesuai dengan konsep & strategi pertahanan nasional, karena :

    " ... having top-notch fighters without the freedom to use them will gain nothing in air superiority contest "



PERTIMBANGAN TEKNIS

Kenapa pilih Sukhoi, bukan Mikoyan-Gurevich (MiG)?
Hal ini terkait luasnya wilayah udara yang mesti di-cover sesuai konsep & strategi pertahahanan udara. Tentu pilihannya menjadi lebih sulit dibandingkan negara2 tetangga yang raunag udaranya lebih sempit namun memiliki anggaran belanja militer jauh lebih besar dibandingkan kita.

Sukhoi inilah yang paling sesuai, bukan saja karena memiliki faktor "deterrence" yang cukup tinggi; namun juga karena memiliki jarak-tempur (combat range) yang mumpuni untuk men-cover wilayah udara RI yg sangat luas.

Sebagai perbandingan jarak jelajah & jarak tempurnya :
code:
Su-27 Flanker
----------------------------------------------------------------------
Max Speed : 2500 km/h (at 36000 ft = Mach 2.35)
Service Ceiling : 59,055 ft (18,000 m)
Typical Range : 3,500 km
Combat Range : 1,500 km with max payload
Ferry Range : 4,000 km with ext. drop tanks


MiG-29 Fulcrum
----------------------------------------------------------------------
Max Speed : 2,445 km/h ( at 36000 ft = Mach 2.3)
Service Ceiling : 60,700 ft (18,500 m)
Typical Range : 1,500 km
Combat Range : 630 km with max payload
Ferry Range : 2,900 km with ext.drop tanks



Selain itu, Sukhoi menawarkan varian2 yang lebih lengkap; air-superiority interceptor, strike & multirole, dan antara varian2 tersebut memiliki "commonality" sehingga service-interoperability lebih mudah serta daya dukung/ operational-availibilty yang lebih besar. Sedangkan Mikoyan MiG-29M multirole variant hingga saat ini masih belum ada versi exportnya. (CMIIW)

Secara hitung2an ekonomi, initial cost of ownership (ICO)-nya pun masih masuk masuk akal, walaupun 'mungkin' hitung2an total cost of ownership (TCO) gak terlalu beda jauh dengan pesawat tempur buatan Barat. Jadi, secara jangka pendek kita diuntungkan karena bisa memiliki fighter dengan ICO rendah, secara jangka panjang TCO-nya 'mudah-mudahan' bisa diakali dengan menggunakan indegenous-components. Sapa tau malah bisa dapet license buat bikin indegenous-variant seperti India & China. Semoga ....


-budi-

0 komentar: