F16 TNI AU

Jumat, 23 Juli 2010



F-16A Block 15 OCU TNI Angkatan Udara (photo : Indoflyer)

Tanggal 12 Desember 1989, roda-roda jet tempur F-16 TNI AU mendarat untuk pertama kalinya di bumi Indonesia. Sejak saat itu kiprahnya sebagai pengawal ruang udara nasional dipertaruhkan. Tak terasa, 17 tahun pengabdian sudah terlewati.

Delapan jet tempur F-16 membentuk formasi rapat. Rute ratusan kilometer disusuri nyaris tanpa suara. Hanya sesekali kode-kode misterius tak berjawab terdengar diinstruksikan leader. Suasana kerahasiaan terasa kental, menandakan misi yang tengah diusung sangatlah penting.

Tiba di sasaran, formasi pesawat menyebar. Satu pesawat leader melesat menuju sebuah bangunan. Lalu dari bawah sayapnya meluncur sepasang bom pintar dan telak mengenai sasaran. Ternyata bangunan yang menjadi sasaran sebuah kubah reaktor nuklir. Kepulan asap membumbung dari rongga yang diakibatkan hantaman bom. F-16 yang lain menukik menjatuhkan bom-bom berikutnya ke sasaran yang sama. Hanya dalam kejapan mata, reaktor nuklir itu hancur lebur.

Peristiwa yang terjadi pertengahan 1981 itu cukup menghenyakkan dunia. Sebuah misi superrahasia yang sangat matang melibatkan sejumlah pesawat tempur F-16 dengan keberhasilan menakjubkan. Operasi udara strategis ini digelar Angkatan Udara Israel untuk menghancurkan reaktor nuklir Osirak di kompleks nuklir besar El-Tuwaitha, beberapa kilometer dari ibukota Irak, Baghdad. Dunia mengingatnya sebagai Operasi Babilon.

Bagi Indonesia, Operasi Babilon menjadi pembenaran atas pemilihan F-16 Fighting Falcon untuk memperkuat pertahanan udara nasional. Tak berselang lama setelah peristiwa itu, 12 pesawat tempur jenis ini resmi memperkuat TNI AU. Peristiwa bersejarah ini berlangsung tanggal 12 Desember 1989.

Lazimnya barang baru, pesawat yang telah diproduksi lebih dari 4.000 unit ini begitu dielukan kehadirannya. Mungkin tidak berlebihan, karena kedatangannya sekaligus menjadi pertanda telah beralihnya teknologi pesawat tempur konvensional ke teknologi fly-by-wire. Sebuah wajah baru bagi postur kekuatan militer Indonesia.

Pesawat F-16A/B Blok-15 OCU (Operational Capability Upgrade) yang dimiliki Indonesia termasuk varian paling laku saat itu. Pesawat ini merupakan penyempurnaan dari versi sebelumnya. Dengan tenaga dorong mencapai 25.000 pon, mudah baginya melakukan manuver ekstrim serta leluasa membawa berbagai macam bom.

Mata F-16 menggunakan radar AN/APG 66 yang bisa mengendus musuh dari jarak 160 km. Sistem navigasi dilengkapi ring laser gyro inertial navigation system untuk menentukan pesawat terhadap koordinat Bumi dengan akurasi cukup tinggi. Tidak hanya itu, perlengkapan avioniknya menjadikan F-16 tidak mengalami kesulitan untuk gentayangan di kegelapan. Operasi malam hari bukan halangan lagi, bukankah ini bisa menyiutkan nyali musuh?

Elang Biru

Hingga kini langit Indonesia masih bisa bersaksi ketika di era 1990-an armada F-16 kerap menghiasinya dengan berbagai menuver indah nan menakjubkan. Melalui tim aerobatik Elang Biru, penerbang terpilih membuktikan kepiawaiannya mengendalikan burung besi tercanggih itu. Puncaknya pada Indonesian Air Show 1996, Elang Biru sukses menyuguhkan tarian udara sekelas Red Arrows (Inggris) dan Roulettes (Australia).

Roda memang terus berputar. Tidak selamanya sesuatu berada di atas begitu pula sebaliknya. Akhir 1990-an embargo militer melanda Indonesia. Kesiapan pesawat kian menurun akibat dukungan logistiknya yang terhenti tiba-tiba. Ironisnya, tuntutan tugas terhadap F-16 yang bersarang di Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi malah meningkat. Meskipun dengan tertatih-tatih, tugas negara yang mulia tetap dipikul dengan penuh kebanggaan.

Terbukti pada Juni 2000, di atas Pulau Gundul, Kepulauan Karimunjawa, untuk pertama kalinya F-16 Indonesia berhasil menembakkan dua rudal udara ke darat AGM-65 Maverick tepat mengenai sasaran. Peristiwa ini menjawab keraguan sebagian masyarakat Indonesia terhadap kemampuan dan persenjataan TNI AU saat itu. Jawaban berikutnya dipertegas dengan berhasilnya penembakkan rudal udara ke udara AIM-9P4 Sidewinder di atas training area Lanud Iswahjudi, Oktober 2006.

Intersep Pesawat Asing

F-16B Block 15 OCU TNI Angkatan Udara (photo : Indoflyer)

Dalam melaksanakan Operasi Pertahanan Udara Indonesia, F-16 selalu hadir untuk mencegah campur tangan pihak asing yang menggunakan wahana udara Indonesia. Identifikasi pesawat tempur asing di atas Pulau Bawean, bukti bahwa Indonesia negara berdaulat yang tidak bisa diperlakukan seenaknya. Tidak hanya berhenti di situ, F-16 juga sering terdadak untuk mencegat pesawat asing yang "melenceng" keluar jalur dan mendekati wilayah kedaulatan Indonesia. Baik disengaja atau tidak, pesawat asing apapun yang melanggar wilayah kedaulatan udara Indonesia telah menjadi tugas F-16 untuk menyergap dan mengusirnya.

Krisis perbatasan pun tidak lepas dari peran F-16. Operasi Penghadiran di Blok Ambalat menunjukkan bahwa Indonesia sangat serius mempertahankan setiap jengkal wilayah dan kedaulatannya.

Di pengujung 2006 lalu, tidak terasa F-16 telah cukup lama menjaga ruang udara Indonesia. Rentang waktu 17 tahun bukan hitungan masa yang singkat, tetapi cukup menjadi bukti loyalitasnya kepada negara. Peran-peran yang telah dilakukan F-16 menjadi cerita tersendiri tidak hanya bagi para pilot yang pernah mengawakinya, tapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan. (*)

Tipe Nomor Seri Kedatangan dan Keterangan

-F-16B TS-1601 5 Desember 1989 -
-F-16B TS-1602 5 Desember 1989 -
-F-16B TS-1603 5 Mei 1990 -
-F-16B TS-1604 5 Mei 1990 Spin dan jatuh di Tulungagung 15 Juni 1992, penerbang eject dan selamat
-F-16A TS-1605 5 Desember 1989 -
-F-16A TS-1606 2 Januari 1990 -
-F-16A TS-1607 5 Mei 1990 Jatuh di ujung runway 24 Lanud Halim 10 Maret 1997, penerbang gugur
-F-16A TS-1608 3 Mei 1990 -
-F-16A TS-1609 18 September 1990 -
-F-16A TS-1610 18 September 1990 -
-F-16A TS-1611 18 September 1990 -
-F-16A TS-1612 18 September 1990 -

Bima Sena
Program pengadaan F-16 di Indonesia berada dibawah Proyek Bima Sena. Indonesia akuisisi 12 F-16A/B Block 15 OCU Standard dengan harga per pesawat 32 juta dollar AS. Sebagai persiapan, TNI AU mengirim empat penerbang ke Luke AFB guna menjalani program latihan terbang. Mereka terdiri dari Letkol Pnb Wartoyo, Mayor Pnb Basri Sidehabi, Mayor Pnb Rodi Suprasodjo dan Mayor Pnb Eris Heryanto. Keempat perwira mengikuti pendidikan selama enam bulan. Setelah 17 tahun, tercatat 41 penerbang telah memperoleh call sign Dragon, kombatan pilot F-16. Dari 41 pilot, 2 dantaranya telah mencapai 2.000 jam sedang 8 pilot telah menembus angka 1.000 jam satu prestasi bagi pilot TNI AU selama 17 tahun mengoperasikan pesawat F-16 Block-15 OCU (Operational Capability Upgrade).

Spesifikasi Umum
-Tipe: Single/two seat fighter-bomber
-Mesin: Pratt & Whitney F100-PW-200/-220/-229 atau General Electric F110 GE-100/-129/-132
-Kecepatan: 1.350 mph (2.173 km/jam)
-Jangkauan: 340 mil (547 km)
-Bobot: MTOW 42.300 lb (19.187 kg)
-Dimensi: Panjang 14,52 m; Bentang sayap 9,45 m; Tinggi 5,09 m
-Persenjataan: M61 Vulcan 20mm, roket CRV-7, rudal AIM-9, AIM-120 AMRAAM, AGM-65, AGM-88, AGM-119, bom CBU-87, CBU-89, CBU-97, Paveway, JDAM, Mk-80 series (Age Wiraksono)

(Angkasa)

0 komentar: