Kemhan Ingin Jualan Jet Tempur KF-X/IF-X

Jumat, 28 Juli 2017


Jumat, 28-07-2017
Kementerian Pertahanan menyatakan, kerjasama pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X dengan Pemerintah Korea Selatan jauh lebih menguntungkan daripada membeli pesawat. "Kami tidak lagi menjadi pembeli (pesawat tempur), tapi menjadi penjual," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Anne Kusmayati di Jakarta, Jumat (28/7).

Anne menambahkan, pesawat tempur ini akan dipasarkan ke negara-negara Asia Pasifik, meski enggan merinci nama negara yang dituju. Jet tempur jenis KF-X/IF-X ini merupakan implementasi kerjasama strategis antara Pemerintah RI dan Pemerintah Korea Selatan yang ditandatangani pada 2006. Rencananya jet tempur jenis ini akan siap beroperasi paling lambat pada 2030.

Anne mengatakan, mengembangkan pesawat tempur secara mandiri lebih menguntungkan karena desain pesawat yang dibuat dapat menyesuaikan dengan persyaratan operasional dari PT Dirgantara Indonesia. "Selain itu, terdapat kebebasan menentukan konfigurasi sehingga menjamin kemampuan pengembangan teknologi pesawat tempur yang berkelanjutan," kata Anne.

Ia menambahkan, dari segi biaya reparasi, memproduksi pesawat tempur sendiri lebih murah karena dapat menekan biaya operasional yang mencakup biaya produksi dan komponen. Selain itu, kata Anne, akan lebih mudah dalam urusan perawatan (maintenance), perbaikan (repair), dan pembaharuan (upgrade) karena dapat dilakukan sendiri. Sementara, urusan modifikasi dan integrasi persenjataan juga mudah karena tidak perlu menunggu persetujuan dari produsen pesawat.

Saat ini, PT DI telah mengirim 81 teknisi ke Korean Aerospace Industry (KAI) di Sacheon City untuk mempelajari sistem dan standar prosedur kerja di KAI. Kerjasama pengembangan jet tempur Generasi 4,5 ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur TNI Angkatan Udara.

Dengan dilengkapi AESA radar, KF-X/IF-X diklaim mampu mendeteksi dan mengunci target pada waktu yang sama. Kini, program tersebut masih dalam tahap peningkatan kesiapan teknologi PT DI untuk melakukan Engineering Manufacture Development (EMD).Rencananya, KF-X/IF-X akan diluncurkan pada tahun 2021 untuk mendapat sertifikasi rancang bangun. Kemudian pada 2026, prototype atau purwarupa akan dioperasikan untuk memastikan dapat terbang dan bermanuver dengan baik, sesuai spesifikasi operasional.


Sumber : cnnindonesia.com
Foto : detik news

Indonesia Pertimbangkan Pembelian 50 Unit Kendaraan Lapis Baja BTR-80 Rusi

Kamis, 27 Juli 2017


Indonesia tengah mempertimbangkan pembelian 50 unit kendaraan lapis baja dari Rusia, Turki, atau Korea Selatan, demikian ungkap Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu seperti yang dilansir Planet-Today.ru.
Kendaraan militer ini rencananya akan dikerahkan untuk keperluan Korps Marinir TNI-AL. Menurut sumber dari kementerian, selain BTR-80 Rusia, saat ini Indonesia tengah mempertimbangkan beberapa jenis unit lainnya, seperti ACV-19 FNSS Turki dan K21 Doosan Korea. Pemerintah dikabarkan akan mengalokasikan dana sekitar 95 juta dolar AS untuk pembelian kendaraan lapis baja ini.
Ryamizard juga mengatakan bahwa kendaraan lapis baja yang akan dibeli nantinya tidak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga untuk operasi internasional, seperti misi perdamaian PBB.
Keputusan akhir pembelian setidaknya dapat diketahui pada April mendatang. Tantangan bagi pihak produsen nantinya adalah kemungkinan persyaratan untuk memasok 10 hingga 15 unit mobil pengangkut personel lapis baja dalam bentuk bongkar pasang (SKD).
Cttn
Pada tahun 2000, Korps Marinir TNI-AL mengakusisi 12 BTR-80A. Kendaraan lapis baja itu bertugas dengan Detasemen Kavaleri di dalam Brigade Marinir I. BTR-80 Indonesia dipersenjatai dengan meriam otomatis 2A72 kaliber 30 mm dan mitraliur PKT kaliber 7.62 mm.
BTR-80A memiliki daya angkut sepuluh orang, terdiri komandan, pengemudi, penembak, serta tujuh orang pasukan. Persenjataan di antaranya dilengkapi fasilitas perlindungan serangan senjata NBC (nuklir, biologi, kimia), sistem penembakan otomatis senjatanya, serta sistem kamuflase. Persenjataan standar terdiri mitraliur atau submachine gun 2A72 (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit, yang dapat menembus baja tipis), senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru, jarak tembak 1.500 m), serta enam pelontar granat asap.



Sumber RBTH Indonesia


Bumerang: Pengangkut Personel Lapis Baja Terbaru Rusia, Terbaik di Dunia


Bumerang adalah pengangkut personel lapis baja (APC) terbaru yang saat ini sedang diuji militer Rusia. APC ini hendak menggantikan seluruh jajaran kendaraan lapis baja beroda Rusia, termasuk BTR-80 dan BTR-82 yang legendaris.
Dengan desain modularnya, Bumerang bisa dimanfaatkan sebagai platform untuk puluhan kendaraan militer beroda.
Bumerang pertama kali dipresentasikan secara tertutup pada Russia Arms Expo 2013. Ia baru dipamerkan kepada publik pada Parade Hari Kemenangan tahun 2015. Meski demikian, sebagian besar informasi mengenai APC ini masih dirahasiakan.

Keunggulan Teknis

Dengan berat 20 sampai 25 ton, APC ini mampu mencapai kecepatan hingga 100 km/jam.
Pintu keluar Bumerang terletak di bagian belakang kendaraan, berbeda dengan BTR-82 yang pintunya terletak di sisi kiri dan kanan kendaraan. Model pintu di belakang justru memungkinkan tentara untuk keluar dari kendaraan dengan lebih aman.
Kendaraan tersebut akan dipersenjatai dengan senapan otomatis 30 mm 2A42 dan senapan mesin PK 7,62 mm, serta peluncur rudal antitank Kornet. Senjata-senjatanya akan dipasang pada modul terpisah yang dioperasikan dari jarak jauh.
Kendaraan ini pun dapat dikendalikan dari jarak jauh. Setelah operator menetapkan target, Bumerang akan menembak dan melacak target secara otomatis.
Tak hanya itu, kendaraan lapis baja ini bahkan bisa “berenang” berkat bantuan dua jet air.
Bumerang juga telah meningkatkan kekuatan lapis bajanya agar tahan serangan ranjau. Ranjau merupakan salah satu momok bagi APC BTR-82 karena kendaraan lapis baja itu justru rentan terhadap ledakan dari tanah.

Desain Modular

Desain modular Bumerang sangat penting, kata kepala editor majalah Arsenal Otechestva, Viktor Murakhovksy, kepada RBTH. Menurut Murakhovksy, modularitas adalah salah satu aspek utama pada kendaraan militer generasi baru.
Desain modular memungkinkan turet, senjata, sensor, dan sistem komunikasi yang berbeda digabungkan pada paltform yang sama. Dengan mengubah modul, APC dapat diubah menjadi jenis kendaraan lain, seperti kendaraan pengintai atau stasiun bergerak, kata sang pakar.
Sistem sinyal, mesin, atau modul senjata bisa diganti menyesuaikan kondisi medan militer, tanpa perlu membawa kendaraan itu kembali ke pabriknya.
Jika modul diganti dengan senjata berkaliber kecil yang memiliki modul peluncur rudal antitank, misalnya, Bumerang berubah menjadi kompleks roket antitank.

Tak Ada Bandingannya?

Bumerang bisa dibandingkan dengan banyak APC asing dalam hal senjata apinya, lapis bajanya, kecepatannya, dan lain-lain. Namun, desain modularnyalah yang membuat kendaraan ini unik, jelas Murakhovsky.
Pesaing terdekatnya adalah kendaraan militer AMV yang dirancang perusahaan industri pertahanan Finlandia, Patria. Dengan desain modularnya, AMV juga bisa diubah menjadi berbagai jenis kendaraan militer.
Namun, sebagaimana yang diungkapkanCEO Perusahaan Industri Militer Alexander Krasovitsky kepada Izvestia, Bumerang tidak memiliki saingan di dunia. Baik AMV Patria asal Finlandia maupun Stryker Amerika tidak dapat menyaigi kendaraan lapis baja terbaru ini.
Lebih dari 20 jenis kendaraan militer yang dibuat dengan platform Bumerang saat ini sedang dipelajari dan dirancang, tambah Murakhovsky.
Produksi APC Bumerang kemungkinan akan dimulai pada 2019.

Sumber : Ria Novosti Indonesia

Rusia Pertimbangkan Pemasokan Kapal Selam Varshavyanka untuk Indonesia




Rusia tengah mempertimbangkan kemungkinan pemasokan kapal selam non-nuklir Varshavyanka (Proyek 636) untuk Indonesia. Demikian hal tersebut diutarakan Wakil Direktur Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik-Militer Rusia (FSMTC) Anatoly Punchuk kepada RIA Novosti.
"Negara-negara Asia-Pasifik menunjukkan minat yang stabil terhadap kapal selam disel-elektrik Proyek 636 Varshavyanka. Saat ini, kemungkinan pemasokan kapal selam tersebut tengah dipertimbangkan dengan pihak Indonesia," kata Punchuk.
Menurutnya, saat ini pihaknya tengah menjalankan negosiasi tambahan dengan sejumlah mitra untuk membahas rincian teknis kerja sama.
Kapal selam Varshavyanka adalah kapal selam generasi ketiga yang memiliki berat benaman 3.950 ton. Dengan bobotnya itu, kapal selam ini bisa melaju di bawah air dengan kecepatan 20 knot dan mampu menyelam sedalam 300 meter. Varshavyanka juga dapat menampung hingga 52 orang awak kapal.
Kapal selam Proyek 636 yang telah dimodifikasi ini memiliki efektivitas tempur yang lebih tinggi. Varshavyanka dilengkapi dengan torpedo berkaliber 533 milimeter (sebanyak enam unit), bom, dan sistem rudal ‘Kalibr’. Kapal ini juga mampu mendeteksi target pada jarak tiga sampai empat kali lebih besar dibandingkan kemampuan deteksi musuh. Atas kemampuan silumannya tersebut, kapal selam ini mendapat julukan ‘lubang hitam’ oleh NATO

Sumber Ria Novosti

Skadron Udara 12 Latihan Penembakan “Air To Ground”

Rabu, 25 April 2012



24 April 2012, Pekanbaru: Sebagai salah satu ujung tombak pelaksanaan operasi udara dalam menegakkan kedaulatan wilayah udara di Indonesia, khususnya wilayah Indonesia bagian barat, Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru senantiasa terus berupaya membina kesiapan operasional secara menyeluruh, baik kesiapan Alutsista maupun personel yang mengawakinya.

Terkait dengan hal tersebut, Skadud 12 Lanud Pekanbaru yang memiliki motto “Temukan dan Hancurkan”, selalu mengasah dan meningkatkan kemampuan para penerbangnya dengan melaksanakan latihan penembakan dari udara ke darat (Air To Ground) dengan sasaran di darat Air Weapon Range (AWR) Siabu yang bertempat di Kabupaten Kampar, Riau, Senin (23/4).

Latihan ini merupakan latihan profesiensi rutin yang dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan seluruh penerbang dan satu flight pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru.

Selain itu, latihan penembakan “Air To Ground” tersebut merupakan ajang uji ketangkasan kemampuan bagi para penerbang tempur dalam ketepatan menembak atau menghancurkan sasaran sekaligus untuk meningkatkan kemampuan tempur yang handal dan profesional.
Direncanakan latihan ini akan berlangsung selama satu minggu ke depan, dan pada pelaksanaan latihan ini setiap penerbang akan melaksanakan bombing, dan straffing gun di daerah sasaran AWR Siabu.

Sumber: TNI AU

Unsur Satfib Koarmatim Latihan Manuvra L-3


24 April 2012, Surabaya: Unsur-unsur Satuan Kapal Amfibi Komando Armada RI Kawasan Timur (Satfib Koarmatim) yang tergabung dalam Gladi Tugas Tempur Tingkat III (L-3), hari ini, Selasa (24/4) bertolak akan melaksanakan latihan manuvra lapangan. Keberangkatkan unsur Satfib Koarmatim tersebut dilepas Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Djoko Teguh Wahojo di Dermaga Koarmatim Ujung, Surabaya.

Ketiga unsur Satfib Koarmatim yang terlibat dalam latihan ini yaitu, KRI Makassar-590, KRI Teluk Mandar-514 dan KRI Teluk Ende-517. Latihan yang dipimpin langsung oleh Komandan Satfib Koarmatim Kolonel Laut (P) Irwan Achmadi ini, akan melaksanakan latihan tempur laut hingga tanggal 27 April mendatang. Manuvra lapangan akan dilaksanakan disekitar perairan laut Jawa dan Tanjung Jangkar Situbondo, dengan melibatkan sebanyak 10 tank amfibi dan 832 personel.

Puncak dari kegiatan latihan ini, yaitu unsur-unsur Satfib Koarmatim akan melaksanakan pendaratan amfibi di Tanjung Jangkar Situbondo. Adapun tujuan latihan ini, untuk melaksanakan pembinaan terhadap unsur-unsur KRI Satuan Amfibi serta meningkatkan profesionalisme prajurit sesuai fungsi azasi dari unsur-unsur Satuan Kapal Amfibi dalam rangka mempersiapkan unsur-unsur tersebut untuk mendukung latihan Armada Jaya dan Latihan Gabungan TNI yang akan datang.

Dalam sambutan Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum yang dibacakan Kasarmatim mengatakan, sebagai bagian yang terintegral dari TNI AL, Koarmatim dituntut untuk mampu membina kemampuan alutsista di jajarannya. Pembinaan ini sangat penting, karena keluaran yang diharapkan adalah terwujudnya kekuatan Koarmatim yang selalu siap untuk diproyeksikan dalam melaksanakan operasi laut sehari-hari dan operasi tempur laut guna pengendalian laut dan proyeksi kekuatan ke darat di dan lewat laut.

Disamping itu, lanjut Pangarmatim, Koarmatim juga harus dapat menjamin penegakan kedaulatan NKRI dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional sesuai hukum nasional maupun internasional yang berlaku. Keberhasilan tugas dan tanggung jawab Koarmatim tersebut, tentunya tidak terlepas dari kesiapsiagaan unsur-unsur operasional yang didukung oleh prajurit-prajurit yang profesional pula.

“Terkait dengan tugas Koarmatim tersebut, dibutuhkan kerja sama unit-unit organisasi Koarmatim yang mampu merespon dan mengantisipasi setiap perkembangan yang terjadi. Dalam hal ini fungsi komando pelaksana pembinaan yang diemban oleh satuan-satuan untuk selalu mengupayakan langkah-langkah dalam rangka menjamin kesiapan personel dan unsur-unsurnya serta terus mengkaji dan mengembangkan taktik, teknik dan metode peperangan laut,”kata Pangarmatim.

Salah satu bentuk keberhasilan pembinaan satuan, lanjut Pangarmatim, adalah bilamana dalam setiap operasi dan latihan yang dilaksanakan maka setiap prajurit memiliki kecakapan dalam menjalankan setiap peran dan fungsinya, utamanya dalam mengoperasikan alutsista yang diawaki dengan benar, sehingga setiap tugas operasi dan latihan yang dilaksanakan mencapai hasil yang optimal tanpa adanya kerugian personel maupun material.

Sumber: Dispenarmatim


Kemenhan: AS Tak Bisa Akses Data Radar di ALKI II

(Foto: Northrop Grumman Corporation)

24 April 2012, Jakarta: Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Brigjen TNI Hartind Asrin memastikan bahwa kecurigaan akan bocornya informasi pantauan radar ke tangan Amerika Serikat tak akan terjadi. "Amerika Serikat tidak bisa memantau radar itu karena pusat kendalinya ada di sini (Indonesia)," kata dia saat dihubungi Jurnal Nasional, Selasa (24/4).

Ia mengatakan, radar tersebut bukan difungsikan untuk memantau informasi-informasi penting terkait rahasia negara. Melainkan, hanya untuk memantau lalu lintas kapal pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) pada titik radar itu ditempatkan.

"Radar itu hanya untuk mengecek kapal yang lewat jadi tidak ada info pentingnya," tuturnya. Saat ditanya alasan pemerintah memilih radar buatan AS ketimbang negara lain, Hartind menjawab, karena pertimbangan ketiadaan biaya untuk membeli radar. Sebab radar Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) ini merupakan hibah dari pemerintah Amerika sehingga pemerintah RI tak mengeluarkan kocek. "Pilih dari AS ini karena kita dikasih. Dan kalau beli dari negara lain duitnya tidak ada," ucap dia.

Hartind pun menampik saat ditanyakan kebenaran soal biaya perawatan radar sekitar US$52 juta per tahun yang harus dibayar pemerintah RI ke Amerika. Seperti diketahui, saat ini terdapat 12 unit bantuan peralatan pendukung sistem pengawasan atau radar laut terintegrasi (Integrated Maritime Surveillance System/IMSS) dari pemerintah Amerika Serikat di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Gunanya untuk mengidentifikasi serta melacak kapal yang melintasi jalur tersebut. Hasil indentifikasi itu berupa pengiriman informasi dan data elektronik kepada kapal lain dan stasiun pantai terdekat. Informasi yang bisa diperoleh dari radar tersebut seperti identifikasi posisi, tujuan, dan kecepatan yang dapat ditampilkan pada layar komputer atau ECDIS (Electronic Charts Display and Information System).

Keberadaan radar-radar tersebut memang membantu Indonesia untuk mendeteksi, melacak dan memonitor kapal-kapal yang melintasi perairan teritorial dan internasional, khususnya di ALKI II. Selain itu, IMSS pun dianggap penting karena dapat membantu aparat terkait memerangi pembajakan, pencurian ikan, penyelundupan, dan terorisme di wilayah perairan Indonesia serta kawasan perbatasan dengan negara tetangga.

Namun karena radar-radar tersebut merupakan hibah AS tak menutup kemungkinan si pembuat memiliki akses tersembunyi terhadap perangkat tersebut. Dengan begitu maka AS dapat mengakses informasi yang dideteksi radar tersebut.

Sistem IMSS mencakup Radar maritim, AIS (Automatic Indentification System) dan kamera jarak jauh yang terpasang di wilayah Selat Malaka, Batam dan Selat Makassar. Dengan memanfaatkan fasilitas internet dan peralatan yang sudah di miliki TNI-AL seperti radio dan komputer, TNI-AL bisa memiliki AIS yang terintegrasi dari Sabang sampai Merauke dan dapat terpantau secara real time dari Mabesal atau Kotama-Kotama lainnya.

Sumber: Jurnas




Hasil Kunker Anggota Komisi I ke Polandia

Rudal Grom gagal mengenai sasaran berupa drone dalam beberapa kali uji coba.

25 April 2012, Jakarta: Anggota Komisi I DPR RI Roy Suryo mengatakan, bersama delapan rekannya telah selesai melaksanakan kunjungan kerja selama lima hari di Polandia.

Adapun kegiatan yang telah dilakukan selama kunker ke Polandia itu, di antarnya melihat secara langsung industri pertahanan yang mereka bangun. "Jadi konsen agenda kunker ke Polandia kemarin itu secara garis besar ada dua hal, yaitu ada yang fokus urusan luar negeri dan satu lagi yang konsen dalam urusan industri pertahanan untuk tujuan pengembangan alutsista," ujar Roy kepada Jurnalparlemen.com, Selasa (24/4).

Roy mengatakan, saat melihat industri pertahanan Polandia, delegasi anggota Komisi I sempat mempertanyakan soal tanggung jawab salah satu perusahaan Polandia, terkait pembelian alutsista oleh TNI berupa peluru kendali. Dari beberapa kali uji coba, ternyata gagal terus atau tidak berfungsi dengan baik.

"Jadi kita menuntut tanggung jawab perusahaan itu untuk memperbaiki kontraknya dan menjamin bahwa alutsista yang dijual itu memang memiliki kemampuan yang benar sebagaimana spek alutsista yang ditawarkan tersebut. Jika tidak sesuai maka Indonesia berhak menuntut janggung jawab dari perusahaan penjual alutsista tersebut secara serius,"ujar politisi Demokrat ini.

Menanggapi atas keluhan dari delegasi DPR ini, kata Roy, pihak Polandia pun telah berjanji akan segera menegur perusaan penjual peluru kendali tersebut. "Jadi dalam MoU penjualan senjata serupa, kedepannya jika ada produk yang gagal seperti itu, kita minta mereka menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Jika tidak maka lebih baik kita tidak lanjutkan saja kerjasama seperti itu dan mereka mengatakan tentu akan memperbaiki MoU-nya dan menegur perusahaannya," ujarnya.

Kata Roy, Komisi I juga nantinya akan meminta Mabes TNI, jika akan kembali membeli peluru kendali dari Polandia atau alutsista dari negera tersebut, DPR minta mesti ada MoU yang jelas agar tidak merugikan kepentingan RI. "Utamanya, kalau ada produk yang gagal seperti itu, mesti ada jaminan diganti dengan produk serupa yang kualitasnya benar dan kondisinya lebih baik lagi," katanya.

Roy mengatakan, dalam kunker itu delegasi Komisi I juga melihat industri helikopter Polandia, Lublin. Perusahaan ini pernah mensuplai helikopternya untuk Polri. "Jadi kita melihat,kemungkinan helikopter untuk versi militer(TNI). Kita juga mendapat penjelasan terbaik biaya produksi helikopter versi militer, termasuk speknya.

Namun di dalam negeri sendiri sejauh ini memang belum ada rencana untuk membeli helikopter dari Polandia, baik untuk Polri dan TNI. Namun jika nantinya Polandia menawarkan untuk menjual pesawatnya, DPR akan mengarahkan agar mereka juga melakukan kerjasama dengan PT DI untuk alih teknologi dan produksi bersama saja," ujarnya.

Sumber: Jurnal Parlemen



RI-China Mantapkan Mekanisme Alih Teknologi Rudal

Selasa, 10 April 2012



10 April 2012, Beijing: Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China terus memantapkan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.

"Pemerintah China sepakat untuk melakukan alih teknologi dari proses awal, dan kini tengah dimantapkan agar ke depan Indonesia juga benar-benar mampu memproduksi rudal tersebut," katanya Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing, Kolonel Lek Suryamargono, Selasa.

Surya mengatakan Indonesia selalu mensyaratkan alih teknologi dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk dalam pembelian rudal C-705 untuk TNI Angkatan Laut.

Dia menjelaskan pula bahwa rencana pemerintah membeli rudal C-705 dari China merupakan bagian dari kerja sama industri pertahanan kedua negara.

Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.

"Ada pula produksi bersama dan pemasaran bersama atas produk persenjataan tertentu yang disepakti. Antara lain peluru kendali C-705," ungkap Suryamargono.

Tentang siapa pihak Indonesia yang akan menjalankan alihteknologi tersebut, Surya mengatakan,"belum tahu apakah PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad atau PT PAL. Yang jelas, China telah sepakat untuk melakukan alih teknologi dan prosesnya kini terus dimantapkan mekanismenya."

Hubungan Militer Indonesia-China Terus Berkembang

Pejabat pemerintah Indonesia mengatakan hubungan militer dan pertahanan dengan Republik Rakyat China (RRC) semakin berkembang luas dan diharapkan semakin meningkat pada masa mendatang.

Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing, Kolonel Lek Suryamargono, mengatakan kedua pemerintahan terus mengintensifkan kerjasama pertahanan kedua negara dalam kerangka kemitraan strategis yang telah disepakati pada 25 April 2005.

"Kepala Pemerintahan kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerjasama bidang pertahanan kedua negara atau Agreement Between The Ministry of Defence, The Republic of Indonesia and The Ministry of National Defence, The People`s Republic of China on Bilateral Defence Cooperation, pada November 2007," ungkapnya, Selasa.

Namun, lanjut dia, kesepakatan itu belum mendapat ratifikasi dari DPR.

"Meski begitu, kedua negara sepakat untuk membentuk forum konsultasi bilateral terkait kerja sama pertahanan dan militer kedua pihak. Dan kini Indonesia dan Cina telah menjalin kerja sama bidang pertahanan dan militer di bidang pendidikan dan latihan, pertukaran kunjungan antar kedua negara, kerja sama industri pertahanan, latihan bersama, produksi bersama, alih teknologi," ujar Suryamargono.

Ia menambahkan bentuk kerja sama pertahanan dan militer kedua negara akan terus ditingkatkan baik dari segi jumlah personel yang terlibat dalam program pertukaran perwira maupun materi latihan dan pendidikan yang dikerjasamakan kedua pihak.

Sumber: ANTARA News

Atraksi Pesawat Meriahkan HUT TNI AU

Senin, 09 April 2012

Atraksi Pesawat Meriahkan HUT TNI AU
Rangkaian demo udara peringatan HUT ke-66 TNI AU, disemarakkan dengan penampilan Jupiter Aerobik Team di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta.
 
Atraksi Pesawat Meriahkan HUT TNI AU
Ratusan penerjun dari prajurit TNI Angkatan Udara, melakukan aksi terjun payung. 
Atraksi Pesawat Meriahkan HUT TNI AU
Soerang anak digendong orangtuanya, menyaksikan atraksi pesawat yang membentuk formasi.
 
 
Atraksi Pesawat Meriahkan HUT TNI AU
Pesawat TNI yang melakukan atraksi antara lain 6 pesawat Sukhoi SU-27/30, 7 F-16 A/B, 11 pesawat Hawk-109/209, 8 pesawat KT-1B, 6 T-34 Charlie, 2 Cessna, 1 heli Basarnas, 3 C-130 HS/BT, 7 EC-120 B, 1 C-212, dan 1 CN-235.
 
SUMBER : DETIK FOTO